Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Mohammad Mas'udi menyatakan PP Muhammadiyah belum mengambil sikap resmi terkait temuan LPPOM MUI, menanggapi polemik kandungan vaksin AstraZeneca yang diduga tidak halal. Dia mengatakan sejauh ini Muhammadiyah selaras dengan sikap MUI bahwa vaksin tetap boleh digunakan karena asas darurat sesuai kaidah ushul fikih dan maqashid syariah. “Prinsip kami sepanjang MUI dan Badan Pengawas Obat dan Makanan tidak ada persoalan, Muhammadiyah akan menyesuaikan,” kata Mas'udi pada Jumat (19/3/2021) yang dikutip dalam laman resmi Muhammadiyah, muhammadiyah.or.id, dikutip Minggu (20/3/2021).

Sembari menunggu langkah selanjutnya, Masudi menyatakan mendorong BPOM segera mengeluarkan pernyataan resmi atas kajian LPPOM MUI. “Kami juga tidak punya alat untuk mengkaji vaksin itu, kami akan hormati keputusan MUI dan BPOM,” kata Marsudi. Diberitakan sebelumnya, AstraZeneca, perusahaan biotech global yang menciptakan vaksin Covid 19 merespon kabar yang beredar terkait adanya kandungan tripsin babi dalam vaksin tersebut.

Hal tersebut kata pihaknya telah dikonfirmasi oleh Badan Otoritas Produk Obat dan Kesehatan Inggris. "Semua tahapan proses produksinya, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan dan bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya," jelasnya. Pihaknya juga meyakini hal tersebut yang didasari oleh persetujuan dari 70 negara di dunia.

Beberapa negara tersebut didominasi oleh negara muslim yakni, Arab Saudi, UEA, Kuwait, Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair dan Maroko dan banyak Dewan Islam di seluruh dunia. Keseluruhannya kata pihak AstraZeneca telah menyatakan sikap bahwa vaksin ini diperbolehkan untuk digunakan oleh para Muslim. "Semua vaksin, termasuk Vaksin Covid 19 AstraZeneca, merupakan bagian penting dalam menanggulangi pandemi Covid 19 agar dapat memulihkan keadaan di Indonesia agar dapat memulihkan perekonomian Indonesia secepatnya," tukasnya.

MUI Nyatakan Haram Tapi Dibolehkan Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengumumkan vaksin AstraZeneca (AZ) haram, karena mengandung zat yang berasal babi, berdasarkan kajian yang dilakukan MUI oleh pihak pihak terkait. Kendati demikian MUI memperbolehkan penggunaan vaksin AZ bagi umat Islam berdasarkan kajian fikih.

"Vaksin covid 19 yang diproduksi oleh Astra Zeneca ini hukumnya haram karena dalam tahapan produksinya memanfaatkan lipsin yang mengandung babi." "Walau demikian, penggunaan vaksin covid 19 produksi AstraZeneca saat ini hukumnya dibolehkan," kata ketua MUI bidang Fatwa, Asrorun Ni'am pada konferensi pers Jumat (19/3/2021). Asrorun Ni'am mengatakan, ada kondisi kebutuhan yang mendesak, yakni hajat syariyah yang dalam konteks fikih menduduki darurat syari atau darurah syariyah, sehingga MUI memperbolehkan penggunaan vaksin AZ.

MUI menyatakan, fatwa yang memperbolehkan vaksin AZ dengan pertimbangan bahwa adanya pernyataan dari ahli terkait bahaya dan resiko yang fatal jika masyarakat tidak divaksinasi covid 19. Selain itu, ketersedian vaksin yang halal tidak mencukupi kebutuhan masyarakat sebagai ikhtiar untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd imunity). Sedangkan pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih vaksin covid 19 yang halal, mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia.

MUI juga memastikan adanya jaminan keamanan penggunaan vaksin AZ oleh pemerintah. "Alasan tidak berlaku lagi jika ketentuan ketentuan yang disebutkan hilang," ujarnya. Asrorun Ni'am mengatakan, MUI akan terus mendorong pemerintah dalam mengupayakan ketersedian vaksin covid 19 yang halal dan suci.

MUI juga mendorong umat islam untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan vaksinasi yang dilakukan pemerintah. MUI menetapkan fatwa nomor 14 tahun 2021 tentang hukum penggunaan vaksin covid 19 produk Astra Zeneca pada 16 Maret 2021. Pada 17 Maret 2021, fatwa telah diserahkan kepada pemerintah untuk dijadikan panduan.

Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.